Jumat, 25 Mei 2012

AUDITING


BUKTI AUDIT
A.    SIFAT BUKTI
Bukti adalah suatu informasi yang digunakan oleh auditor untuk menjelaskan apakah suatu informasi yang diperiksa dinyatakan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Bukti menunjukkan informasi yang sangat persuasif, misalnya penilaian auditor atas surat berharga, dan informasi yang kurang persuasif, misalnya respon atas pertanyaan-pertanyaan dari para karyawan klien.
Perbedaan Bukti Audit dengan Bukti Hukum dan Ilmiah
            Dalam kasus-kasus hukum, ada aturan tentang bukti yang tertata rapi yang digunakan oleh hakim untuk melindungi pihak yang tidak bersalah. Dalam eksperimen ilmiah, para periset memperoleh bukti untuk menguji hipotesis dengan menggunakan eksperimen yang terkendali, seperti uji-coba suatu jenis obat untuk menguji keampuhan pengobatan medis baru. Meskipun para profesional ini mengandalkan jenis bukti yang berbeda, dan menggunakan bukti pada lingkungan yang berbeda serta dalam cara yang berbeda, para ahli hukum, ilmuwan, dan auditor semuanya menggunakan bukti guna membantu mereka membuat keputusan.
B.     KEPUTUSAN BUKTI AUDIT
Sebagian besar keputusan auditor adalah penjelasan jenis-jenis dan jumlah bukti audit yang tepat, yang dibutuhkan untuk melengkapi komponen dari laporan keuangan klien dan keseluruhan laporan adalah laporan yang benar, dan bahwa klien menyelenggarakan pengendalian internal yang efektif atas pelaporan keuangan. Ada empat keputusan mengenai bukti apa yang harus dikumpulkan dan seberapa banyak akumulasinya, yaitu:
1.      Prosedur audit yang akan digunakan
2.      Berapa ukuran sampel yang akan dipilih untuk prosedur tersebut.
3.      Item-item mana yang akan dipilih dari populasi
4.      Kapan melaksanakan prosedur tersebut.
Prosedur Audit. Adalah rincian instruksi yang menjelaskan bukti audit yang harus diperoleh selama audit. Contoh prosedur audit untuk verifikasi pengeluaran kas : mengambil jurnal pengeluaran kas dan membandingkan nama pembayar, jumlah, dan tanggal pada cek yang dibatalkan drn jurnal pengeluaran kas.
Ukuran Sampel. Dilakukan setelah memilih prosedur audit agar dapat membedakan ukuran sampel yang satu dan item yang lainnya dalam populasi yang sedang diuji. Ukuran sampel untuk setiap prosedur tertentu mungkin akan berbeda antara audit yang satu dengan yang lainnya.
Item yang Dipilih. Setelah menentukan ukuran sampel untuk suatu prosedur audit, auditor harus memutuskan item-item mana dalam populasi yang akan diuji.
Pemilihan Waktu. Keputusan pemilihan waktu audit, sebagian, dipengaruhi oleh kapan klien menginginkan audit itu diselesaikan. Dalam audit atas laporan keuangan, umumnya klien ingin agar audit diselesaikan antara 1 hingga 3 bulan setelah akhir tahun.
Berikut ini adalah suatu modifikasi atas prosedur audit untuk menyertakan keempat keputusan bukti audit, (huruf miring menidentifikasi keputusan pemilihan waktu, item-item yang dipilih, dan ukuran sampel). “Mengambil jurnal pengeluaran kas bulan Oktober dan membandingkan nama pembayar, jumlah uang, dan tanggal cek yang dibatalkan dengan jurnal pengeluaran untuk suatu sampel yang dipilih secara acak dari 40 nomor cek”.
Program Audit. Daftar prosedur audit untuk bidang audit tertentu atau untuk keseluruhan audit disebut sebagai program audit. Program audit selalu memuat daftar prosedur audit, dan biasanya mencakup akuran sampel, item- item yang dipilih, dan pemilihan waktu pengujian. Umumnya, ada  suatu program audit, termasuk beberapa prosedur audit untuk setiap komponen audit (piutang usaha, penjualan, dan seterusnya).
C.    BUKTI YANG MEYAKINKAN
Bukti yang meyakinkan merupakan bukti yang tak terbantahkan, apapun bentuknya. Bukti ini sangat kuat sehingga mengalahkan semua bukti lainnya, dan merupakan sumber diambilnya kesimpulan. Namun auditor harus yakin bahwa pendapatnya benar dengan tingkat kepastian yang tinggi. Dengan menggabungkan semua bukti yang diperoleh dari suatu audit, auditor akan mampu kapan ia merasa yakin untuk menerbitkan suatu laporan audit. Dua penentu bukti yang meyakinkan adalah ketepatan dan kecukupan bukti.
1.      Ketepatan Bukti
Ketepatan waktu adalah ukuran kualitas bukti, yang berarti relevansi dan realibilitasnya memenuhi tujuan audit untuk kelas transaksi, saldo akun, dan pengungkapan yang berkaitan.
*        Relevansi Bukti. Bukti audit harus berkaitan atau relevan dengan tujuan audit yang akan diuji oleh auditor sebelum bukti tersebut dianggap tepat. Relevansi hanya dapat dipertimbangkan dalam tujuan audit khusus, karena bukti audit mungkin relevan untuk satu tujuan audit, tetapi tidak relevan untuk tujuan audit lainnya.
*        Reliabilitas Bukti. Hal ini mengacu pada tingkat di mana bukti tersebut dianggap dapat dipercaya atau layak dipercaya. Enam karakteristik bukti yang dapat diandalkan dalam reliabilitas, yaitu:
1)      Independensi Penyedia Bukti. Bukti yang diperoleh dari sumber luar entitas lebih dapat diandalkan daripada yang diperoleh dari dalam entitas.
2)      Efektivitas Pengendalian Internal Klien. Ketika pengendalian internal klien efektif, bukti audit yang diperoleh lebih dapat diandalkan daripada pengendalian internal yang lemah.
3)      Pengetahuan Langsung Auditor. Bukti audit yang diperoleh langsung oleh auditor melalui pemeriksaan fisik, pengamatan, penghitungan ulang, dan inspeksi akan lebih baik daripada informasi yang diperoleh secara tidak langsung.
4)      Kualifikasi Individu yang Menyediakan Informasi. Meskipun sumber informasi bersifat independen, bukti audit tidak akan dapat diandalkan kecuali individu yang menyediakan informasi tersebut memenuhi kualifikasi untuk itu.
5)      Tingkat Objektivitas. Bukti yang objektif lebih baik daripada bukti yang memerlukan pertimbangan tertentu untuk menentukan apakah bukti tersebut benar. Apabila reliabilitas bukti yang subjektif sedang dievaluasi, penting bagi auditor untuk menilai kualifikasi orang yang menyediakan bukti tersebut.
6)      Ketepatan Waktu. Ketepatan waktu untuk audit merujuk pada kapan bukti itu dikumpulkan maupun pada periode yang tercakup oleh audit itu. Bukti ini biasanya lebih baik untuk akun-akun neraca apabila diperoleh sedekat mungkin dengan tanggal neraca.

2.      Kecukupan Bukti
Kuantitas bukti yang diperoleh akan menentukan kecukupannya. Kecukupan bukti diukur terutama oleh ukuran sampel yang dipilih auditor. Dua faktor yang akan menentukan ketepatan ukuran sampel dalam audit, yaitu: ekspektasi auditor atas salah saji dan keefektifan pengendalian internal klien.
3.      Dampak Gabungan
Bukti yang mendukung hanya dapat dievaluasi setelah mempertimbangkan kombinasi antara ketepatan dan kecukupan, termasuk pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan dan kecukupan tersebut. Ketika menentukan persuasivitas bukti, auditor harus mengevaluasi apakah tingkat ketepatan dan kecukupan, termasuk semua faktor yang mempengaruhi kedua hal itu telah dipenuhi.
4.      Persuasivitas dan Biaya
Persuasivitas dan biaya dari semua alternatif harus dipertimbangkan sebelum memilih jenis bukti terbaik. Tujuan auditor adalah memperoleh sejumlah bukti audit yang tepat dan mencukupi dengan total biaya serendah mungkin. Namun, biaya bukan alasan yang tepat untuk menghilangkan suatu prosedur yang diperlukan atau tidak mengumpulkan ukuran sampel yang memadai.
D.    JENIS-JENIS BUKTI AUDIT
1.      Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik adalah inspeksi atau perhitungan yang dilakukan oleh auditor atas aktiva berwujud (tangible asset). Pada umumnya, pemeriksaan fisik merupakan sarana ke tujuan untuk meyakinkan kebenaran kuantitas maupun uraian aktiva dan dianggap sebagai salah satu jenis bukti audit yang paling terpercaya dan berguna.
2.      Konfirmasi
Konfirmasi menggambarkan penerimaan tanggapan baik secara tertulis maupun lisan dari pihak ketiga yang independen yang memverifikasi keakuratan informasi sebagaimana yang diminta oleh auditor. Konfirmasi biayanya relatif tinggi dan dapat menimbulkan beberapa ketidaknyamanan bagi pihak yang diminta untuk menyediakan konfirmasi tersebut.
Standar auditing mengidentifikasi dua jenis permintaan konfirmasi yang umum, yaitu: konfirmasi positif dan konfirmasi negatif. Konfirmasi positif meminta si penerima untuk memberikan tanggapan dalam semua situasi. Apabila auditor tidak menerima tanggapan atas konfirmasi positif, biasany auditor akan mengirimkan permintaan kedua atau ketiga dan dalam beberapa kasus bahkan meminta klien untuk menghubungi pihak ketiga yang independen dan memintanya untuk memberikan tanggapan kepada auditor. Jika semua upaya itu gagal, auditor akan melaksanakan prosedur alternatif untuk menguji saldo piutang. Sedangkan dengan konfirmasi negatif, penerima diminta untuk menanggapi hanya bila informasinya tidak benar, dan tidak ada pengujian tambahan yang dilaksanakan bila tanggapan tidak diterima. Akibatnya, konfirmasi negatif memberikan bukti yang terpercaya daripada konfirmasi positif.
3.      Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengujian auditor atas berbagai dokumen dan catatan klien untuk mendukung informasi yang tersaji atau seharusnya tersaji dalam laporan keuangan. Dokumen yang diperiksa oleh auditor adalah catatan yang digunakan klien untuk menyediakan informasi bagi pelaksanaan bisnis dengan cara terorganisasi, yang bisa juga dalam bentuk kertas, elektronik, atau media lain.
Dokumen dibedakan menjadi dua, yaitu: dokumen internal dan dokumen eksternal. Dokumen internal adalah dokumen yang dipersiapkan dan dipergunakan dalam organisasi klien itu sendiri, sedangkan dokumen eksternal adalah dokumen yang pernah berada dalam genggaman seseorang di luar organisasi yang mewakili pihak yang menjadi klien dalam bertransasksi.
4.      Prosedur Analitis
Prosedur analitis menggunakan berbagai perbandingan dan hubungan untuk menilai apakah saldo akun atau data lainnya nampak wajar. Prosedur analitis dibutuhkan selama fase perencanaan dan penyelesaian atas semua audit. Prosedur analitis yang digunakan untuk tujuan yang berbeda pada suatu audit akan dibahas berikut ini:
*        Memahami Industri dan Bisnis Klien. Auditor harus memperoleh pengetahuan mengenai industri dan bisnis klien sebagai bagian dari perencanaan audit.
*        Menilai Kemampuan Entitas untuk Terus Berkelanjutan. Prosedur analitis sering menjadi indikator yang berguna untuk menentukan apakah perusahaan klien memiliki masalah keuangan. Prosedur analitis tertentu dapat membantu dalam menilai kemungkinan terjadinya kegagalan bisnis.
*        Menunjukkan Adanya Kemungkinan Salah Saji dalam Laporan Keuangan. Perbedaan signifikan yang tidak diharapkan antara data keuangan tahun berjalan yang belum diaudit dan data lainnya yang digunakan dalam perbandingan biasanya disebut fluktuasi tidak biasa (unusual fluctuations). Fluktuasi tidak biasa terjadi apabila perbedaan yang signifikan tidak diperkirakan terjadi tetapi terjadi atau perbedaan yang signifikan tidak diperkirakan terjadi tetapi tidak terjadi. Aspek prosedur ini sering disebut “pengarahan perhatian” karena hal itu menghasilkan prosedur yang lebih terinci dalam area audit khusus di mana salah saji dapat ditemukan.
*        Mengurangi Pengujian Audit yang Terinci. Dalam kasus ini, prosedur analitis memberikan bukti substantif dalam mendukung pernyataan yang wajar atas saldo akun terkait, dan hal itu memungkinkan untuk melakukan pengujian terinci yang lebih sedikit dalam hubungannya dengan akun-akun tersebut.
5.      Tanya-jawab dengan Klien
Tanya-jawab dengan klien adalah upaya untuk memperoleh informasi baik secara tertulis maupun lisan dari klien sebagai tanggapannya atas berbagai pertanyaan yang diajukan oleh auditor. Bukti ini tidak dapat dinyatakan sebagai bukti yang meyakinkan karena tidak diperoleh dari sumber yang independen dan barangkali cenderung mendukung pihak lain.
6.      Hitung Uji (Rekalkulasi)
Hitung uji melibatkan pengujian kembali berbagai perhitungan dan transfer informasi yang dibuat oleh klien pada suatu periode yang berada dalam periode audit pada sejumlah sampel yang diambil auditor. Pengujian ini terdiri dari pengujian atas keakuratan perhitungan klien dan mencakup prosedur seperti perkalian faktur penjualan dan persediaan, penjumlahan jurnal dan buku tambahan, serta pengecekan kalkulasi beban penyusutan dan beban dibayar dimuka. Sebagian besar pengujian ulang auditor dilakukan oleh perangkat lunak audit dengan bantuan komputer.
7.      Pelaksanaan Ulang
Pelaksanaan ulang adalah pengujian independen yang dilakukan auditor atas prosedur atau pengendalian akuntansi klien, yang semula dilakukan sebagai bagian dari sistem akuntansi dan pengendalian internal klien. Jika rekalkulasi melibatkan pengujian ulang atas suatu perhitungan, pelaksanaan ulang melibatkan pengujian atas prosedur lain.
8.      Observasi
Observasi adalah penggunaan indera perasa untuk menilai aktivitas klien. Auditor dapat mengunjungi lokasi pabrik untuk memperoleh kesan umum atas fasilitas klien, atau mengamati para individu yang melaksanakan tugas-tugas akuntansi untuk menentukan apakah orang yang diserahi tanggung jawab telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Observasi ini sangat berguna dalam pelaksanaan sebagian besar proses audit.
Tabel Ketepatan Jenis Bukti

Kriteria untuk Menentukan Ketepatan
Jenis Bukti
Independensi Penyedia
Keefektifan Pengendalian Internal Klien
Pengetahuan Langsung Auditor
Kualifikasi Penyedia
Objektivitas Bukti
Pemeriksaan fisik
Tinggi (auditor memilikinya)
Bervariasi
Tinggi
Umumnya tinggi (auditor sebagai penyedia)
Tinggi
Konfirmasi
Tinggi
Tidak tersedia
Rendah
Bervariasi-umumnya tinggi
Tinggi
Dokumentasi
Bervariasi-eksternal lebih independen daripada internal
Bervariasi
Rendah
Bervariasi
Tinggi
Prosedur analitis
Tinggi/rendah (auditor melakukan/klien menanggapi)
Bervariasi
Rendah
Umumnya tinggi (auditor melakukan/klien menanggapi)
Bervariasi-umumnya rendah
Tanya-jawab dengan klien
Rendah (klien menyediakan)
Tidak berlaku
Rendah
Bervariasi
Bervariasi-rendah sampai tinggi
Rekalkulasi
Tinggi (auditor melakukan)
Bervariasi
Tinggi
Tinggi (auditor melakukan)
Tinggi
Pelaksanaan ulang
Tinggi (auditor melakukan)
Bervariasi
Tinggi
Tinggi (auditor melakukan)
Tinggi
Observasi
Tinggi (auditor melakukan)
Bervariasi
Tinggi
Umumnya tinggi (auditor melakukan)
Sedang
Istilah, Prosedur Audit, dan Jenis Bukti
Istilah dan Definisi
Prosedur Audit Ilustratif
Jenis Bukti Audit
Memeriksa (Examine), studi yang cukup terinci atas dokumen atau catatan untuk menentukan fakta-fakta spesifik tentang catatan itu.
Memeriksa sampel faktur pemasok untuk menentukan apakah barang/jasa yang diterima layak dan sesuai dengan jenis, yang umumnya digunakan dalam bisnis klien.
Dokumentasi
Scan, pemeriksaan yang kurang terinci atas dokumen atau catatan untuk menentukan apakah terdapat hal yang tidak biasa yang memerlukan investigasi lanjutan.
Scan jurnal penjualan, dengan mencari transaksi tidak biasa dan bernilai besar.
Prosedur analitis
Membaca, pemeriksaan atas informasi tertulis untuk menentukan fakta yang berkaitan dengan audit.
Membaca notulen rapat dewan direksi dan mengikhtisarkan semua informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan dalam file audit.
Dokumentasi
Menghitung (compute), perhitungan yang dilakukan oleh auditor independen terhadap klien.
Menghitung rasio perputaran persediaan dan membandingkan dengan rasio tahun sebelumnya sebagai pengujian atas keusangan persediaan.
Prosedur analitis
Menghitung ulang (recompute), perhitungan yang dilakukan untuk menentukan apakah perhitungan klien sudah benar.
Menghitung ulang harga jual per unit dikali jumlah unit sampel salinan faktur penjualan dan bandingkan totalnya dengan perhitungan klien.
Rekalkulasi
Menjumlah, penjumlahan kolom angka untuk menentukan apakah totalnya sudah sama dengan nilai yang diperoleh klien.
Menjumlah jurnal penjualan selama periode satu bulan dan membandingkan semua total dengan buku besar.
Rekalkulasi
Menelusuri (trace), instruksi yang biasanya berkaitang dengan dokumentasi atau pelaksanaan ulang. Instruksi itu harus menyatakan apa yang ditelusuri auditor dan darimana serta manuju kemana penelusuran itu dilakukan.
Menelusuri sampel transaksi penjualan dari jurnal penjualan ke faktur penjualan dan bandingkan nama pelanggan, tanggal, serta total nilai uang penjualan.
Menelusuri posting dari jurnal penjualan ke akun buku besar.
Dokumentasi


Pelaksanaan ulang
Membandingkan (compare), perbandingan informasi dari dua lokasi yang berbeda. Insturksi ini harus menyatakan informasi mana yang dibandingkan serinci mungkin.
Memilih sampel faktur penjualan, dan membandingkan harga jual per unit yang dicantumkan dalam faktur dengan daftar harga jual per unit yang telah diotorisasi oleh manajemen.
Dokumentasi
Menghitung (count), penentuan aktiva yang dimiliki pada waktu tertentu. Istilah ini hanya dapat dikaitkan dengan jenis bukti audit yang didefinisikan sebagai pemeriksaan fisik.
Menghitung sampel dari 100 item persediaan dan membandingkan kuantitas serta deskripsi dengan perhitungan klien.
Pemeriksaan fisik
Mengamati (observe), tindakan mengamati yang harus dikaitkan dengan jenis bukti audit yang didefinisikan sebagai observasi.
Mengamati apakah dua tim yang melakukan perhitungan persediaan telah menghitung dan mencatat biaya persediaan secara independen.
Observasi
Tanya-jawab (inquire), ), tindakan tanya-jawab harus dikaitkan dengan jenis bukti audit yang didefinisikan sebagai tanya-jawab.
Tanya-jawab dengan manajemen tentang apakah ada persediaan yang telah usang pada tanggal neraca.
Tanya-jawab dengan klien
Vouch (menjamin), penggunaan dokumen untuk memverifikasi transaksi atau jumlah yang tercatat.
Memvouch sampel catatan transaksi akuisisi dengan faktur yang diperoleh dari pemasok dan laporan penerimaan.
Dokumentasi

E.     DOKUMENTASI AUDIT
Dokumentasi audit adalah catatan utama tentang prosedur auditing yang diterapkan, bukti yang diperoleh, dan kesimpulan yang dicapai auditor dalam melaksanakan penugasan. Dokumentasi audit harus mencakup semua informasi yang perlu dipertimbangkan oleh auditor untuk melakukan audit secara memadai dan untuk mendukung laporan audit.
1.      Tujuan Dokumentasi Audit
            Tujuan dokumentasi audit secara keseluruhan adalah untuk membantu auditor dalam memberikan kepastian yang layak bahwa audit yang memadai telah dilakukan sesuai dengan standar audit. Secara khusus, dokumentasi audit memberikan:
a)      Dasar bagi Perencanaan Audit. Jika auditor akan merencanakan audit, informasi tentang referensi yang diperlukan harus tersedia dalam file audit, seperti informasi tentang pengendalian internal, anggaran waktu untuk masing-masing area audit, program audit, dan hasil audit tahun sebelumnya.
b)      Catatan Bukti yang Dikumpulkan dan Hasil Pengujian. Jika muncul kebutuhan, auditor harus mampu memperlihatkan kepada lembaga pembuat peraturan dan pengadilan bahwa audit telah direncanakan dengan baik dan diawasi secara memadai; bukti yang dikumpulkan telah tepat dan mencukupi; dan laporan audit tepat dengan mempertimbangkan hasil audit. Ketika prosedur audit melibatkan sampling transaksi atau saldo, dokumentasi audit harus mengidentifikasi item-item yang diuji.
c)      Data untuk Menentukan Jenis Laporan Audit yang Tepat. Data yang ada dalam file memiliki kegunaan yang sama untuk mengevaluasi apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar berdasarkan audit tersebut.
d)     Dasar bagi Tinjauan Ulang oleh Supervisor dan Partner. Tinjauan ulang yang cermat oleh supervisor juga memberikan bukti bahwa audit telah diawasi dengan baik.
2.      Kepemilikan File Audit
Dokumentasi audit yang disiapkan selama penugasan, termasuk skedul yang disiapkan leh klien auditor, adalah properti auditor. Waktu orang lain maupun klien memiliki hak hukum untuk memeriksa file audit adalah ketika mereka dipanggil oleh pengadilan sebagai bukti hukum. Pada akhir penugasan, file audit disimpan di kantor akuntan publik sebagai referensi di masa mendatang dan untuk mematuhi standar auditing yang berkaitan dengan penyimpanan dokumen.
3.      Kerahasiaan File Audit
Selama pelaksanaan audit, auditor memperoleh informasi yang bersifat rahasia, termasuk gaji pejabat, penetapan harga produk dan rencana periklanan, serta data biaya produk. Jika auditor membuka rahasia ini kepada pihak luar atau kepada karyawan klien yang tidak berhak, maka hubungannya dengan manajemen akan sangat terganggu. Oleh karena itu, auditor harus melindungi file auditnya setiap waktu.
4.      File Permanen
File permanen berisi data yang bersifat historis atau berlanjut yang berhubungan dengan audit saat ini. File permanen umumnya meliputi hal-hal berikut:
*        Kutipan atau salinan dari dokumen perusahaan yang terus penting artinya, seperti akte pendirian, anggaran rumah tangga, perjanjian obligasi, dan kontrak.
*        Analisis akun tahun-tahun sebelumnya yang terus penting artinya bagi auditor, seperti akun utang jangka panjang, akun ekuitas pemegang saham, goodwill, dan aktiva tetap.
*        Informasi yang berhubungan dengan pemahaman atas pengendalian internal dan penilaian risiko pengendalian, seperti bagan organisasi, bagan arus, kuesioner, dan informasi tentang pengendalian lainnya.
*        Hasil prosedur analitis dari audit tahun sebelumnya, seperti rasio dan persentase yang dihitung oleh auditor, dan total saldo atau saldo per bulan untuk akun tertentu.

5.      File Tahun Berjalan
File tahun berjalan mencakup semua dokumentasi audit yang dapat diterapkan pada tahun yang diaudit. Jenis informasi yang sering tercakup dalam arsip tahun berjalan adalah:
a)      Program audit
Standar auditing mewajibkan program audit tertulis untuk setiap audit. Program audit ini biasanya dicatat dalam file terpisah untuk memperbaiki koordinasi dan integrasi semua bagian audit, meskipun beberapa kantor akuntan publik juga menyertakan salinan program audit untuk setiap bagian audit pada dokumentasi audit.

b)      Informasi umum
Informasi umum dirancang untuk mendukung jumlah laporan keuangan tertentu, seperti memo perencanaan audit, salinan notulen rapat dewan direksi, salinan kontrak atau perjanjian yang tidak dicantumkan dalam file permanen, catatn tentang diskusi dengan klien, komentar tinjauan ulang penyelia, dan kesimpulan umum.

c)      Neraca saldo berjalan
Neraca saldo berjalan yaitu jumlah yang dicantumkan dalam catatan buku besar yang akan menjadi pusat perhatian audit setelah tanggal neraca dan menyiapkan daftar akun buku besar umum dan saldo akhir tahunnya.

d)     Ayat jurnal penyesuaian dan reklasifikasi
Apabila auditor menemukan salah saji yang material dalam catatan akuntansi, laporan keuangan harus dikoreksi. Ayat jurnal reklasifikasi sering dibuat dalam laporan keuangan untuk menyajikan informasi akuntansi secara tepat, meskipun saldo buku besar sudah benar.

e)      Skedul pendukung
Skedul pendukung disiapkan oleh klien atau auditor untuk mendukung jumlah yang spesifik pada laporan keuangan. Jenis utama skedul pendukung adalah:
*        Analisis. Analisis dirancang untuk memperlihatkan aktivitas dalam akun buku besar umum selama keseluruhan periode audit, yaitu menghubungkan saldo awal dan akhir. Jenis skedul ini digunakan untuk akun seperti sekuritas; wesel tagih; penyisihan untuk piutang tak tertagih; properti, pabrik, dan peralatan; utang jangka panjang; dan semua akun ekuitas.
*        Neraca saldo atau daftar. Jenis skedul ini terdiri dari rincian yang membentuk saldo akhir tahun dari akun buku besar umum.
*        Rekonsiliasi jumlah. Rekonsiliasi yang mendukung jumlah tertentu dan biasanya diharapkan akan mengaitkan jumlah yang dicatat dalam catatan klien dengan sumber informasi lainnya.
*        Pengujian kelayakan. Berisi informasi yang memungkinkan auditor untuk mengevaluasi apakah saldo klien mengandung salah saji dengan mempertimbangkan situasi penugasan.
*        Ikhtisar prosedur. Skedul ikhtisar mendokumentasikan luas pengujian, salah saji yang ditemukan, dan kesimpulan auditor berdasarkan pengujian.
*        Pemeriksaan dokumen pendukung. Tujuannya adalah untuk mendokumentasikan pengujian yang dilakukan dan hasil yang diperoleh, namun harus manyatakan kesimpulan positif atau negatif tentang tujuan pengujian itu.
*        Informasional. Berisi informasi yang berlawanan dengan bukti audit, yaitu mencantumkan informasi tentang SPT pajak dan data formulir angaran waktu dan jam kerja klien yang berguna dalam administrasi penugasan.
*        Dokumentasi dari luar. Sebagian besar isi file audit dari dokumentasi luar yang dikumpulkan auditor, seperti jawaban konfirmasi dan salinan perjanjian dengan klien. Walaupun bukan skedul tetapi dokumen ini diindeks dan diarsip.